In Memoriam Gus Dur
Kepergian Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur masih membuat dahaga banyak orang untuk memberikan apresiai, tidak hanya kaum nahdiyin saja, warga tionghoa pun banyak yang simpatik untuk Gus Dur.
Waktu Gus Dur wafat jelang pergantian tahun, banyak orang terhempas untuk memberi gelar atau julukkan kepadanya. Dari Guru Bangsa sampai penganugrahan pahlawan nasional. Uniknya, orang yang menentang dan membencinya, banyak juga yang tak rela sosok macam Gus Dur dianugerah gelar semacam itu. “Gus Dur lebih banyak dosanya dibanding Pak Harto”, tulis komentar di sebuah situs berita ternama. Waah… sosok kayak gini yang menarik diamati. Banyak pemujanya, banyak juga penentangnya.
Keinginan untuk mengisi ruang apresiasi buat keteladanan dan gagasan Gus Dur masih nampak kosong dan juga akan penuh debat. Mumpung sedang suasana peringatan 40 hari wafatnya, saya teringat dengan seorang tokoh yang cocok dibuat perbandingan, bagaimana memberi gelar atau atribut untuknya. Daripada nantinya banyak orang yang tak suka seorang Gus Dur diberi gelar tinggi-tinggi. Anehnya, kebanyakan yang tak menyukainya justru berasal kaum muslim. Nah, orang yang pantas dibanding-bandingkan dalam hal ini adalah adalah John Lennon. Lho kok jauh amat?
Setelah saya pikir-pikir, dua manusia ini banyak kesamaannya dibanding perbedaannya. Coba deh, ingat-ingat. Ketika mati ditembak oleh orang yang tak jelas apa maunya, John Lennon wafat dipenghujung tahun 1980 atau akhir sebuah dasawarsa yang gemilang. Apanya yang gemilang?
Kepergian John Lennon seperti mengucapkan selamat tinggal kepada perdamaian. Tidak ada lagi generasi bunga yang hurah-hurah dengan tampang lecek lusuh, sambil berteriak tentang perdamaian dan keharmonisan. Tak ada lagi pelangi psikedelik. Tak tampak lagi kebebasan untuk berpikir miring menentang struktur masyarakat yang kolot. Semua seolah ikut mati bersama John Lennon.
Apa betul kenyataannya seperti itu? Nyatanya memang demikian. Awal tahun 1980an, diwarnai ketegangan dua raksasa dunia untuk siap berperang. Bukan perang konvensional dengan bedil, tapi dengan senjata mematikan: nuklir. Amerika Serikat yang memimpin dunia barat (dunia bebas, kata mereka), sibuk menghabiskan uang membangun senjata sebesar tugu Monas, untuk memusnahkan dunia komunis (atau ‘kerajaan setan’, kata Presiden Ronald Reagan). Dunia menjadi tidak nyaman. Perang kata, perang urat syaraf terjadi antara dunia barat dan komunis. Saling mengusir diplomat dan pembelotan menjadi berita yang tak mengejutkan dari suguhan setiap hari di media massa.
Lalu gimana dengan Gus Dur? Dia juga wafat sama seperti dengan John Lennon: dipenghujung tahun. Gus Dur wafat seolah membawa kematian bagi keharmonisan, kerukunan dan kemajemukan bangsa ini. Semasa dasawarsa Gus Dur negeri ini banyak terjadi hentakan ide-ide cemerlang yang mengejutkan, bahkan kemarahan. Kepergian Gus Dur seperti membuka kembali jalan pada kebencian, ketidakharmonisan di masyarakat, dan permusuhan. Tidak ada lagi kesamarataan orang. Yang ada dunia penuh formalitas dan atribut.

Pada masa Gus Dur sebagai presiden, Istana Merdeka yang angker dan seolah bukan rumah rakyat, disulap menjadi gardu induk tempat mengadu. Siapa saja bebas datang ke sana. Bahkan, kelompok penentangnya dari organisasi masyarakat keagamaan dibiarkan masuk ke dalam Istana dan berdebat langsung dengan Gus Dur. Kini semua hilang bersama Gus Dur. Yang tersisa hanya pertikaian, benih untuk saling membenci antar kelompok dan pemeluk agama.
Wah, repot dong? Masak sih seorang Gus Dur wafat, dia juga membawa mati harapan-harapan yang diingini sebuah masyarakat majemuk seperti Indonesia? Ya mungkin tidak separah itu. Namun bibit-bibit kembalinya kearah ketidakharmonisan sudah nampak jelas. Ikatan kohesi (kerekatan) antar masyarakat mulai rapuh dan menjauh. Berapa banyak rumah ibadah yang dirusak atau dibakar? Berapa banyak kasus-kasus berkaitan dengan penafsiran sebuah ajaran agama terjadi? Belum lagi masalah sosial yang pelik lainnya.
Lha! Katanya Gus Dur pencetus ide-ide kerukunan dan keharmonisan, kenapa dia mati membawa ide-ide sendiri terkubur? Ini repotnya… Gagasan pikiran Gus Dur kebanyakan seperti bukan barang manufaktur. Dibuat di pabrik, lalu dijual dan siap dipakai masyarakat. Ide-ide cemerlang Gus Dur justru lebih banyak mirip produk fermentasi. Di buat lalu diendapkan lamaaaaaa…. Baru bisa dinikmati. Mirip anggur. Makin lama makin enak dicicipi. Lihat aja cara berpikirnya yang selalu dalam satuan tera (setrilyunan, sepuluh pangkat dua belas). Sedangkan kebanyakan orang masih berpikir dalam satuan kilo (ribuan, sepuluh pangkat tiga).
Buktikan saja, ketika tahun 1999 Gus Dur menyebut anggota parlemen kita seperti taman kanak-kanak. Saat itu 99,99% orang memprotesnya. Tapi sekarang? Ucapan Gus Dur ternyata bukan hanya benar, tetapi terlalu halus untuk menyebut demikian.
Kesamaan lainnya antara dua manusia ini, Lennon dan Gus Dur, adalah sikap nyeleneh yang sulit mengikuti alur utama cara berpikir orang kebanyakan. “The Beatles is more popular than Christ!”, teriak Lennon. Atau “Ucapan assalam alaikum boleh diganti dengan selamat pagi atau sore”, usul Gus Dur.
Mereka juga berdua menyukai seni dan perdamaian, meski ide-ide mereka sering ditolak oleh masyarakatnya sendiri. Lagu-lagu Lennon semasa bersama the Beatles pernah dilarang di putar di beberapa stasiun radio Inggris. Ide-ide Gus Dur juga tidak begitu saja bisa diterima oleh kebanyakan orang di sini. Mereka ingin ada perubahan pola pikir, bukan sekedar perubahan atribut.
Nah, kembali ke masalah gelar-gelaran buat Gus Dur. Saya jadi teringat joke yang dilontarkannya. Pernah suatu waktu semasa menjadi presiden, Gus Dur yang bernama asli Abdurrahman Wahid, mengunjungi kota Malang. Ketika pesawat yang ditumpanginya ingin mendarat di Bandar udara Abdurrahman Saleh, Malang. Eh…si pilot keliru menyebutnya. “Presiden Abdurrahman Saleh siap mendarat di Abdurrahman Wahid”.
Dari sini, saya sekedar mengusulkan, daripada banyak kontroversialnya memberi gelar macam-macam kepada seorang Gus Dur, lebih baik abadikan saja namanya menjadi sebuah bandar udara. John Lennon saja yang suka membangkang, diberi kehormatan dengan memberi nama bandar udara kota kelahirannya, Liverpool, menjadi Liverpool John Lennon Airport.

Lho kok bukan pahlawan nasional saja? Lebih resmi dan politis. Kalau ini pasti akan mengundang banyak pertanyaan. Kok Pak Harto nggak dikasih? Bukan itu saja, pemberian gelar itu akan menjadi kesempatan banyak pihak untuk memanfaatkannya. “Pak Sarwo Edhie Wibowo (mertua presiden) harus dikasih juga lho gelar pahlawan nasional!”, usul beberapa kalangan yang memanfaatkan momentum ini. Nah, baru usul saja sudah banyak ributnya dan kepentingan. Apalagi kalau sudah terjadi.
Lalu apa gunanya gelar pahlawan nasional untuk seorang Gus Dur? Kalau ibarat pakaian, agak kesempitan buat dia. Pahlawan nasional akan mebludak jumlahnya kelak. Gelar Guru Bangsa atau sejenisnya, itu ‘kan cuma gelar informal dari masyarakat. Nah, mendingan diabadikan saja namanya seperti John Lennon, menjadi nama sebuah bandar udara. Alasannya, lebih eksklusif dan unik. Juga mudah diingat orang. Kalau pahlawan nasional tidak semua orang tahu. Tan Malaka saja yang digelari pahlwan nasional, banyak yang tak tahu. Apalagi semasa Orde Baru, orang ini dianggap sosok manusia negatif.
Bandar udara kota mana yang cocok untuk dinamakan Abdurrahman Wahid? Lazimnya di kota kelahirannya Jombang, yang justru tak punya fasilitas itu. Bagaimana kalau bandar udara Sentani di Jayapura, ibukota Papua, diganti menjadi Bandar Udara Abdurrahman Wahid?

Lho…memangnya Gus Dur orang Papua? Masih banyak tokoh Papua yang pantas dibanding Gus Dur untuk kehormatan itu. Ada Theys Eluay, tokoh masyarakat Papua yang tewas dibunuh secara misterius tahun 2001.
Hubungan Papua dan Gus Dur sangatlah emosional dan politis. Gus Durlah yang mengangkat harkat harga diri orang Papua. Dia mengganti nama Irian Jaya (Irian berasal dari kata /iryan/ dalam bahasa Arab yang artinya telanjang), menjadi Papua. Gus Dur membolehkan digunakan simbol identitas bangsa Papua (selama tak mendirikan negara) secara bebas. Dia juga membuat peraturan yang reformatif dan liberal untuk kehidupan sosial dan politik bangsa Papua. Dan lebih unik lagi, Gus Dur menatap sinar matahari pertama kali millennium 2000 untuk negeri Indonesia di bumi Papua pada 1 Januari 2000. Seperti dia ingin menatap harapan panjang bagi kesejukan hati rakyat semua orang di Indonesia… (*)
*) CP
Filed under: Polsek (Politik Sosial Ekonomi) | No Comments »





arena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka seni batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempat masing-masing. Dalam perkembangannya, batik yang dulu merupakan simbol feodalisme Jawa dimana ada batik untuk raja dan keluarganya serta batik untuk orang kebanyakan, lambat laun kerajinan batik yang disebut dengan batik tulis ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pakaian rakyat yang sangat digemari, baik pria maupun wanita. Dan sampai sekarang hampir setiap instansi baik negeri ataupun swasta seperti diwajibkan memakai dresscode batik untuk sekali dalam setiap minggunya. Hal yang tidak aneh dan patut dijalankan, karena kita bangga selaku Warga negara Indonesia yang beraneka ragam budayanya bisa dipersatukan oleh satu karakter yang namanya “batik”.


